Keanekaragaman Serangga Tanah di Sekitar Rumah
LAPORAN PRAKTIKUM
Keanekaragaman Serangga Tanah Di Sekitar
Rumah
Dosen Pengajar :
Beata Ratnawati. ST, M.Si.
Asisten Dosen :
Elva Febiyanti Faidah
Warohmah, A.Md.
Hanum Hydena Hadianti, A.Md.
J3M119101
LNK A1
TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tanah merupakan bagian dari kehidupan
makhuk hidup yang tidak dapat dipisahkan. Namun
ancaman penurunan kualitas dan kesehatan tanah tidak dapat dihindari. Kerusakan tanah dapat berupa kerusakan fisik, yaitu
tekstur tanah, kanduangan bahan organik tanah,
drainase, topografi, dan iklim. Selain itu, juga terdapat kerusakan yang
disebebakan oleh pengolahan manusia,
yaitu intensitas pengolahan, adanya penambahan organik,
aktifitas mikrobia dan garam. Oleh karena itu, kualitas dan kesehatan tanah berkatian dengan keberadaan fauna tanah
(Dwiastuti. 2012).
Perubahan maupun pencemaran lingkungan dapat diketahui dengan menggunakan bioindikator berupa organisme hidup.
Bioindikator yang sering digunakan adalah serangga. Hal ini berkaitan dengan kemampuan serangga dalam beradaptasi
dengan lingkungannya. Sehingga semakin
tinggi keanekaragaman serangga
maka semakin baik pula kondisi
lingkungan (Taradipha, et
al. 2019).
1.2
Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu mengetahui tingkat keanekaragaman serangga tanah di sekitar
rumah dengan metode pitfall traps.
1.3
Alat dan Bahan
Alat yang diperlukan dalam praktikum
ini yaitu gunting, pinset, penggaris, mikroskop, sekop, kamera, alat tulis, buku identifikasi, gelas plastik, kantong
plastik, jarum, meteran,
kaca pembesar, tali plastik atau rafia,lampu lup, dan botol flakon.
Bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah serangga yang tertangkap, alkohol
70%, detergen, dan kertas
label.
1.4 Metode Kerja
Observasi
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman serangga tanah di sekitar rumah.
Penentuan Lokasi Pengambilan Sampel
Lokasi pengambilan sampel dilakukan di
rumah masing-masing dengan menentukan garis
transek garis sepanjang 10 x 10 meter sebanyak dua statiusn dengan 3 perangkap
jebak Pitfall traps disetiap stasiun. Sehingga total Pitfall traps sebanyak
6 buah.
Teknik Pengambilan Sampel
1.
Menyiapkan alat dan bahan
2.
Menentukan stasiun
3. Memasangkan perangkap jebak dengan metode Pitfall traps
4. Mengambil serangga yang terjebak dalam gelas plastik setelah dilakukan pemasangan selama 24 jam
5.
Mengidentifikasi
serangga dengan menggunakan buku identifikasi
6. Hasil identifikasi dimasukkan kedalam tabel identifikasi
7. Melakukan analisis data
Teknik Pengumpulan Data
1. Identifikasi serangga
yang diperoleh dengan alat Pitfall traps
2. Menyortir serangga
yang terdapat di masing-masing plot
3.
Menghitung jumlah
jenis serangga yang terdapat di masing-masing plot
4. 4. Melakukan identifikasi serangga di rumah dengan memotong bagian morfolgi serangga meliputi sayap, sungut, kaki, dan kepala
5. 5. Mengidentifikasi serangga dengan menggunakan buku identifikasi serangga Burror Suin, dan Kunci Determinasi Serangga Kanisisus
Analisis Data
·
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
H’ = Indeks Keanekaragaman Shannor Wiener
Pi = Proporsi jenis ke 1I di dalam sampel total
ni = jumlah individu dari seluruh jenis
N = jumlah total individu dari seluruh jenis
·
Frekuensi
F
= 𝐽𝑖
𝐾
Ji = jumlah plot yang terdapat jenis ke i
K = jumlah
total plot yang dibuat
·
Frekuensi relatif
Fr = Frekuensi relatif kenis
ke i Fi = Frekuensi untuk jenis ke i
ƩF = Jumlah total frekuensi untuk semua jenis
·
Kelimpahan (K)
K
= 𝑛𝑖
𝐴
K = kelimpahan jenis untuk jenis ke i
ni
= jumlah total individu jenis ke i
A = Luas total daerah yang disampling
·
Kelimpahan relatif (Kr)
Kr = 𝐾𝑖
Ʃ𝐾
Kr = kelimpahan relatif jenis untuk jenis ke i
Ki = kelimpahan untuk jenis ke i
ƩK = jumlah kelimpahan semua jenis
·
Indeks nilai penting
INP = Fr
+ Kr
Fr = Frekuensi relatif
Kr = Kelimpahan relatif
BAB II
Tabel
1 Hasil identifikasi Trap Arisca Wulan Nur
Khasanah
|
No. |
Stasiun |
Nama hewan |
Nama latin |
Kelas |
Ordo |
Jumlah |
|
1. |
1 |
Nyamuk |
Aedes albopictus |
Insecta |
Diptera |
7 |
|
2. |
2 |
Semut merah |
Solenopsis invicta |
Insecta |
Hymenoptera |
1 |
|
3. |
2 |
Nyamuk |
Aedes albopictus |
Insecta |
Diptera |
2 |
Tabel 2. Hasil identifikasi Trap Elmi Nurul Azizah
|
No. |
Stasiun |
Nama hewan |
Nama latin |
Kelas |
Ordo |
Jumlah |
|
1 |
1 |
Semut merah |
Solenopsis invicta |
Insecta |
Hymenoptera |
3 |
|
2 |
2 |
Kumbang kotoran |
Scarabaeus viettei |
Insecta |
Coleoptera |
1 |
Tabel 4. Hasil identifikasi Trap Purnama Syukro
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tabel 5. Hasil identifikasi Trap Yurie Hasna Zaini
Tabel 6. Hasil identifikasi Trap Marandika Widaya
M
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tabel 7. Hasil Pengamatan Keanekaragaman Serangga Tanah
|
No |
|
Parameter |
Jenis Serangga Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) Frekuensi (F) Frekuensi Relatif (Fr) Kelimpahan (K) Kelimpahan Relatif (Kr) Indeks Nilai
Penting (INP) 1. Semut Hitam 0,36 0,43 31,5% 0,29 43,28% 74,82% 2. Semut Merah 0,31 0,30 22,0% 0,13 19,40% 41,41% 3. Lipan 0,06 0,03 2,4% 0,01 1,49% 3,94% 4. Nyamuk 0,36 0,50 36,7% 0,21 31,34% 68,02% 5. Belalang batu 0,06 0,03 2,4% 0,01 1,49% 3,94% 6. Jangkrik 0,06 0,03 2,4% 0,01 1,49% 3,94% 8. Kumbang 0,06 0,03 2,4% 0,01 1,49% 3,94% Jumlah 1,36 1,00 0,67 1,00 2,00
Perhitungan :
2.1 Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, indeks keanekaragaman seluruh
jens serangga yang ditemukan
memiliki tingkat keanekaragaman yang rendah karena mmemiliki nilai kurang
dari 1. Jenis serangga yang memiliki indeks keanekaragaman tertinggi
adalah semut hitam
dan nyamuk yaitu sebesar 0,36. Hal ini di sebabkan karena semut hitam dan
nyamuk memliki jumlah terbanyak
dibandingkan dengan jenis serangga lain yang ditemukan. Sedangkan indeks keanekaragaman terendah terdapat pada serangga jenis lipan, belalang
batu, kumbang, dan jangkrik
dengan nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,06. Frekuensi serangga tertinggi
adalah nyamuk yaitu sebesar 0,50. Hal
ini berarti nyamuk lebih sering ditemukan dibandingkan dengan jenis serangga lainnya. Frekuensi relatif
tertinggi juga terdapat pada organisme nyamuk. Nilai perbandingan tertinggi antara jumlah total individu jenis ke i
dengan luas total daerah yang disampling
terdapat pada semut hitam dengan luas area lahan sampling sebesar 10 x 10 m.
Nilai kelimpahan relatif tertinggi
juga terdapat pada semut hitam yaitu sebesar 43,28 %. Nilai tersebut diperoleh dari perbandingan antara
kelimpahan jenis semut hitam dengan total kelimpahan dari seluruh
jenis serangga. Indeks nilai penting
tertinggi terdapat pada jenis semut hitam. Hal tersebut menunjukkan bahwa area sampling
didominasi oleh jenis semut hitam.
Distribusi ordo serangga yang ditemukan di masing-masing area tidak sama. Ada beberapa ordo yang ditemukan pada semua area dan sebagian hanya pada beberapa area. Ordo Hymenoptera ditemukan pada semua area. Menurut Basna et., al (2017) hal ini disebabkan karena serangga tanah tersebut merupakan serangga tanah yang umum dan banyak jumlah famili yang beraktivitas di permukaan tanah. Ada juga ordo Diptera yang berada di empat dari enam area pengamatan dan ada dua ordo (Coleptera, dan scolopendromorpha) yang hanya ditemukan pada satu area saja.
Keanekaragaman serangga tanah dapat
dipengaruhi oleh pola distribusi yang tergantung pada habitat dan kondisi abiotiknya. Serangga tanah umumnya
menyukai habitat yang kaya akan bahan organik,
karena bahan organik
dapat menjadi sumber makanannya. Populasi
serangga tanah dapat meningkat dengan adanya kandungan
bahan organik yang tinggi. Semakin
suatu habitat kaya akan bahan organik, maka populasi serangga tanah akan meningkat.
Faktor lahan akan mempengaruhi jenis
keanekaragaman serangga di setiap wilayahnya.
Wilayah padang rumput umumnya ditumbuhi
oleh berbagai macam jenis tumbuhan
yang memungkinkan jenis-jenis serangga banyak ditemukan
di tempat tersebut,
seperti ordo hymenoptera, coleptera, dan orthoptera. Berbeda dengan lahan yang tidak ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan
dan hanya berupa lahan kosong
dan bebatuan. Serangga
umunya lebih menyukai
habitat yang kaya akan bahan organik sedangkan pada lahan yang tidak
ditumbuhi tumbuhan, maka sumber
makanan akan sedikit sehingga serangga tanah yang ditemukan di tempat ini akan berbeda.
Faktor cuaca dan iklim juga
mempengaruhi keanekaragaman dan hasil pengamatan di berbagai area pengamatan. Menurut Siregar et., al (2014)
makin stabil keadaan
suhu, kelembaban, salinitas, pH dalam suatu lingkungan,
maka semakin banyak jenis dalam lingkungan tersebut. Lingkungan yang
stabil lebih memungkinkan keberlangsungan evolusi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman serangga di sekitar urmah didominasi oleh jenis
semut hitam (Lasius
niger) dan nyamuk (Aedes
albopictus) dengan nilai indeks
kanekaragaman sebesar 0,36. Hal tersebut dikarenakan semut merupakan hewan yang hidup secara berkoloni sehingga
ketika kawanan semut tersebut masuk ke dalam
perangkap maka banyak yang
tertangkap. Faktor yang mempengaruhi hasil pengamatan adalah lahan dan cuaca
atau iklim.
Daftar Pustaka
Basna M, Koneri R, Papu A. 2017.
Distribusi dan Diversitas Serangga Tanah di Taman Hutan Raya Gunung Tumpa
Sulawesi Utara. Jurnal MIPA UNSTRAT 6(1) : 36-42.
Dwiastuti, S. 2012.
Kajian Tentang Kontribusi Cacing Tanah dan Perannya Terhadap
Lingkungan Kaitannya Dengan
Kualitas Tanah. Jurnal Seminar Nasional
IX Pendidikan Biologi FMP UNS. 9(1) : 1-4.
Siregar AS, Bakti D, Zahara F. 2014.
Keanekaragaman Jenis Serangga di Berbagai Tipe Lahan Sawah. Jurnal
Agroekoteknologi 2(4) : 1640-1647.
Taradipha MRR, Rushayati SB, dan Haneda NF. 2019. Karakteristik Lingkungan Terhadap Komunitas Serangga.
Journal of Natural Resources
and Environmental Management. 9(2) : 1-11.


Komentar
Posting Komentar